Mahasiswa KKN UNUBA Berdayakan Petani Kopi Excelsa dan Lestarikan Budaya di Desa Dayurejo

Latest Comments

No comments to show.

Desa Dayurejo, Prigen — Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa sering kali menjadi katalisator bagi pengembangan potensi lokal. Hal ini tercermin dari kiprah KKN Kelompok 5 di Desa Dayurejo. Nabil, selaku Koordinator Desa (Kordes), memaparkan bahwa program unggulan mereka berpusat pada pemanfaatan lahan serta pemberdayaan petani kopi di wilayah tersebut.

Mengangkat Pamor Kopi Excelsa ke Permukaan

Diskusi mahasiswa KKN dengan pelaku usaha kopi di Desa Dayurejo. (Dok. KKN Kelompok 5)

Fokus utama pengabdian KKN Kelompok 5 adalah mendongkrak potensi kopi lokal, khususnya jenis Excelsa yang kini tengah naik daun dan tumbuh subur di dataran Lereng Gunung Arjuna dan Gunung Ringgit. Mahasiswa KKN mengambil peran strategis sebagai fasilitator yang menjembatani petani desa dengan para penggiat kopi dan pemilik kafe di Malang. Melalui sinergi ini, petani dapat menjual green bean langsung ke pelaku usaha kopi yang nantinya akan menyangrai (memanggang) biji tersebut sesuai standar masing-masing.

Di Dayurejo, perputaran ekonomi kopi digerakkan oleh tiga tengkulak utama yang memiliki ciri khas masing-masing:

  • Sukmojati (Milik Pak Jumali): menghadirkan keunikan branding karena kebun kopinya yang berlokasi tepat di area petilasan seluas 2 meter persegi yang mengelilingi sekitar 5 bangunan candi.
  • Pak Tua: Memiliki jangkauan pasar yang luas, dengan riwayat pengiriman kopi hingga ke pulau Kalimantan.
  • Kopi Herbal: Menjadi salah satu pilar distribusi kopi lokal di desa tersebut.

Meski memiliki target pasar yang masif bahkan permintaan dari Kalimantan bisa mencapai 8 ton per bulan sektor ini masih terganjal problematika over demand. Ketersediaan pasokan (supply) masih rendah karena lamanya proses produksi. Membutuhkan waktu sekitar 3 tahun dari fase penyemaian benih hingga pohon kopi bisa berbuah, sedangkan umur produktif pohon kopi hanya berkisar antara 7 hingga 13 tahun. Mencari inovasi untuk mempercepat proses semai tanpa mengorbankan kualitas menjadi tantangan tersendiri.

 

Merajut Interaksi Sosial dan Menjaga Lingkungan

Mahasiswa KKN berbaur dengan pemuda desa dalam kegiatan bermain geledekan. (Dok. KKN Kelompok 5)

Selain pemberdayaan ekonomi, kelompok KKN ini juga melebur dalam dinamika sosial pemuda desa. Mereka secara aktif berbaur dengan anak-anak muda, salah satunya melalui acara bermain geledekan (kereta kayu tradisional) bersama warga. Sayangnya, antusiasme pemuda ini belum dinaungi oleh tata kelola organisasi yang paten, sehingga banyak inisiatif dan acara yang terancam tidak berkelanjutan. Membangun wadah kepemudaan yang terstruktur kini menjadi salah satu misi penting Kelompok 5.

Insinerator ramah lingkungan hasil kolaborasi mahasiswa KKN dengan warga RT 14. (Dok. KKN Kelompok 5)

Dari sisi lingkungan, Dayurejo dan kawasan Prigen pada umumnya masih bergulat dengan masalah pengelolaan sampah. Pembakaran sampah yang menghasilkan polusi udara masih sering dijumpai. Sebagai bentuk solusi nyata, mahasiswa KKN berkolaborasi dengan warga RT 14 untuk menciptakan insinerator (alat pembakar sampah) yang lebih ramah lingkungan.

Merawat Spiritual dan Literasi Budaya di Era Disrupsi

Pengabdian mahasiswa tidak berhenti pada aspek materiil, namun juga menyentuh literasi budaya dan spiritualitas. Hal ini terlihat dari partisipasi mereka mendampingi Pak Suyit, Kepala Dusun setempat, saat melaksanakan tradisi Macapatan sebelum acara Nyecepi Deso yang digelar di Balai Dusun Gutean. Macapatan adalah tradisi melantunkan gending-gending Jawa yang kaya akan nilai spiritual, yang biasanya dilantunkan di tempat-tempat bersejarah peninggalan leluhur.

Prosesi Macapatan bersama Pak Suyit, Kepala Dusun, sebelum acara Nyecepi Deso. (Dok. KKN Kelompok 5)

Di tengah gempuran budaya asing, Nabil menggarisbawahi urgensi bagi generasi muda untuk kembali mencintai sejarah dan budayanya sendiri. Ia mencontohkan kesuksesan Korea Selatan yang mampu mengekspansi budaya dan kulinernya melalui medium film dan serial drama.

Persaingan di era digital mengharuskan pelestarian budaya tidak lagi dibatasi melalui media konvensional seperti buku bacaan atau perkumpulan fisik:

  • Media sosial harus dimanfaatkan secara masif sebagai alat pertukaran budaya.
  • Kearifan lokal para leluhur Nusantara dalam menanggapi alam sejatinya sangat luar biasa, namun perlu dinarasikan ulang agar lebih relevan dan saintifik bagi generasi muda saat ini.

Desa Dayurejo adalah bukti nyata bahwa sebuah desa menyimpan kepingan “laboratorium dunia” yang utuh; mulai dari potensi alam yang menjanjikan, dinamika pemuda yang perlu diarahkan, hingga akar budaya yang menanti untuk dilestarikan oleh tangan-tangan generasi penerus.

TAGS

CATEGORIES

berita

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *